
Deskripsi
Haji adalah mengunjungi baitullah (ka’bah) untuk melakukan salah satu ibadah yang wajib bagi yang sudah masuk dalam katagori mampu melakukannya baik secara finansial maupun fisik. Karena itulah haji cuman bisa dilakukan satu kali bagi umat muslim yang jauh dari tanah Arab.
Melakukan Haji harus sesuai dengan aturan yang sudah di tetapkan oleh syariat Islam, baik dari segi syarat, wajib, dan rukunnya. Salah satu rukun haji adalah melakukan tawaf di Baitullah (Ka’bah) dengan syarat dan ketentuan tawaf. Salah satu syarat sahnya tawaf adalah suci dari semua hadas dan najis sebagaimana halnya sembahyang.
Haidh adalah salah satu penyebab seorang perempuan mendapatkan hadas besar atau kata lain tidak suci selama darah itu masih mengalir. Diwajibkan dia mandi apabila darah tersebut sudah habis. Hal itu menjadi danamika bagi perempuan yang berhasil saat hendak melakukan thawaf.
Pertanyaan
1. Bagaimana hukum melakukan tawaf bagi wanita yang berhaidh?
2. Bagaimana solusi bagi wanita yang berhaidh saat hendak melakukan thawaf rukun?
Jawaban
1. Thawaf dalam keadaan berhaidh tidak sah karena tidak cukupnya syarat thawaf, yaitu suci dari hadas dan najis menurut pendapat mazhab Syafi’i, Maliki, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Adapun mazhab Hanafi menyatakan bahwa thaharah atau suci bukanlah syarat bagi thawaf. Maka berdasarkan di atas pendapat yang terakhir ( mazhab Imam Hanafi ), maka thawaf wanita yang sedang berhaidh hukumnya sah dan diwajibkan membayar dam yakni seekor unta.
2. Untuk wanita yang berhaidh saat akan melakukan thawaf rukun dan tidak mungkin menetap di Mekkah maka solusinya bisa dengan beralih atau berpegang kepada pendapat mazhab hanafi yang telah diurai di atas.
Referensi
Ibnu hajar al-haitami, tuhfah al-muhtaj, juz 4 hal , Beirut, darulihya’ :
ولا يجوز طواف الركن ولا غيره لفاقد الطهورين بل الأوجه أنه يسقط عنه طواف الوداع ولو طرأ حيضها قبل طواف الركن ولم يمكنها التخلف لنحو فقد نفقة أو خوف على نفسها رحلت إن شاءت ثم إذا وصلت لمحل يتعذر عليها الرجوع منه إلى مكة تتحلل كالمحصر ويبقى الطواف في ذمتها فيأتي فيه ما تقرر وفي هذه المسألة مزيد بسط بينته في الحاشية، وإن الأحوط لهاأَنْ تُقَلِّدَ مَنْ يَرَى بَرَاءَةَ ذِمَّتِهَا بِطَوَافِهَا قَبْلَ رَحِيلِهَا
‘Amirah, hasyiah ’Amirah, Cet. Toha Putra, juz 2, hal.103
فَاءِدَةٌ ( الطَهَارَةُ وَاجِبَةٌ عِنْدَ الحَنِيْفَةِ وَلَيْسَتْ شَرْطًا وَاِذَا تَرَكَهَا مَعَ الجَنَابَةِ اَوِ الحَيْضِ وَجَبَتْ بَدَنَةٌ وَمَعَ الحَدْث شَاةٌ)




