Deskripsi Masalah
Sebagaimana diketahui, yang bahwasanya resepsi perkawinan yang berlaku dalam adat istiadat kita dan masyarakat umum adalah dengan cara mengadakan berbagai hiasan bagi kedua mempelai. Baik dari gaya baju, pelaminan, tata rias kecantikan dan sebagianya.
Terkhusus bagi pengantin wanita berhias dengan cara memakai henna/pacar pada tangan dan kakinya. Mereka mengunakan henna/pacar dengan merek-merek yang moderen, baik henna instan atau henna natural (ilmiah). Yang mana warna dari henna tersebut akan hilang dalam tempo beberapa hari ke depan.
Henna (instan) atau biasa disebut dengan pacar kuku di indonesia, biasanya dibuat dari pohon henna atau lowsonia genus. Selain untuk menghiasi kuku, henna sering di pakai untuk melukis di tangan sehingga terlihat lebih menawan.
Pertanyaan
- Bagaimana hukum memakai inai bagi pengantin wanita?
- Apakah bekasan henna modern(instan) dapat menegah wudhu’?
Jawaban
- Hukum memakai inai/henna bagi pengantin wanita ada beberapa macam tergantung cara pemakaiannya .
Seperti yg kita ketahui bahwa tata cara memakai Pacar atau Hena berbeda-beda, tentu hukumnya juga tidak sama.
a. الاختضاب
Mewarnai/mencelup sampai penggelangan tangan dengan Pacar atau Hena secara keseluruhan. Cara ini disunatkan bagi wanita bersuami dengan keizinannya, dan dimakruhkan bagi wanita lajang.
b. لتطريف
Mewarnai/mencelup jari-jari tangan saja ,cara ini tidak dianjurkan, namun dibolehkan bagi wanita yg bersuami, bila mendapat keizinan dari suaminya. Dan di haramkan bagi wanita lajang.
c. النقش
Mengukir dengan Pacar atau Hena pada tangan-tangan dengan berbagai seni seperti yang kita lihat sekarang ini. Hukum nya sama seperti pada poin (b)
- Tidak menegah wudhu’ asalkan ia bekasan(tidak hasil sesuatu saat kita menggosoknya). Akan tetapi kalau hasil sesuatu saat kita menggosoknya (in henna) maka dapat menegah sampainya air wudhu.
Referensi :
- Abdul Hamid bin al-Husain al-Daghistani al-Syarwani al-Makki, Hasiyahsyarwani, cet Beirut darulihya’, juz 4 hal. 83 :
عبارة الكردي على بافضل وأما النقش والتسويد وخضب أطراف الأصابع فمكروه حيث كان لها حليل وأذن لها فيه وإلا حرم حيث لم تعلم رضاه ويجري ذلك في التنميص كما في الأسنى وكلام الشارح حج في الزواجر يفيد كراهته مطلقا ويجري التفصيل المذكور في وشر الأسنان أي تحديدها وفي الوصل اهـ.
(قوله: وتطريف)
قال ابن الرفعة والمراد بالتطريف المحرم تطريف الأصابع بالحناء مع السواد أما بالحناء وحده فلا شك في جوازه شرح العباب وكذا ينبغي أن يقال في النقش سم (قوله: ومن لم يأذن إلخ) أي ولا علمت رضاه ونائي وبصري وكردي على بافضل (قوله: حليلها) أي من زوج أو سيد.
Artinya : Ibarat Kurdi Ali Bafadhal. Adapun mengukir, menghitamkan dan mewarnai ujung tanganhukum nya adalah makruh sekira kira ada halil (suami atau sayid) baginya dan memberi izin ianya halil, jika tidak (tidak diberi izin oleh halil) maka hukum nya haram sekira kira tidak di ketahui riza nya si halil. Dan berlaku demikian pada masalah tanmis (mencabut bulu bulu kecil) sebagiamana yang dijeladkan dalam kitab asna muthallib dan kalam syareh haj pada masalah jawajir yang memberi faedah makruh nya secara mutlak, dan berlaku perincian yang telah di sebut kan pada masalah menajamkan gigi( memperbarui nya gigi) dan pada masalah sambung rambut. (Perkataan : dan mewarnai ujung tangan) telah berkata ibnu ruf’ah maksud dengan mewarnai ujung tangan yang di haramkan adalah mewarnai ujung tangan dengan inai beserta hitam, adapun dengan inai sendirinya maka tidak ada keraguan pada boleh nya (syarah ‘ibad). Dan Sepatutnya bahwa dikatakan pada masalah mengukir (Syaikh Ahmad bin Kasim Al-I’badi) .
- Abu Bakar Syata, I’anatutthalibin, cet Beirut darul fikri, juz 1 hal 46 :
ورابعها: أن لا يكون على العضو حائل بين الماء والمغسول كنورة وشمع ودهن جامد وعين حبر وحناء بخلاف دهن جار أي مائع وإن لم يثبت الماء عليه وأثر حبر وحناء.
(قوله: وأثر حبر وحناء)
أي وبخلاف أثر حبر وحناء فإنه لا يضر.
والمراد بالأثر مجرد اللون بحيث لا يتحصل بالحت مثلا منه شئ.
Artinya : Dan yang ke empat bahwa tidak diatas anggota itu penghalang diantara air dan yang di basuhkan, seperti kapur, lilin, minyak yang keras dan in tinta dan inai, dengan sebalik minyak yang mengalir, artinya benda cair, sekalipun tidak tetap air di atas nya, dan bekasan tinta dan inai. (Perkataan : dan bekasan tinta dan inai) artinya dan dengan sebalik bekasan tinta dan inai maka tidak mudarat. Maksud dengan bekasan adalah semata mata warna sekira kita tidak hasil sesuatu saat kita menggosoknya.
- Abu Bakar Syata, I’anatutthalibin, cet Beirut darul fikri, juz 2 hal 387 :
وعبارة الكردي: قوله: ويحرم الحناء للرجل.
خرج به المرأة، ففيها تفصيل، فإن كان لاحرام استحب لها سواء كانت مزوجة.
أو غير مزوجة، شابة أو عجوزا وإذا اختضبت عمت اليدين بالخضاب.
وأما المحدة: فيحرم عليها، والخنثى كالرجل.
ويسن لغير المحرمة إن كانت حليلة وإلا كره.
ولا يسن لها نقش وتسويد وتطريف وتحمير وجنة، بل يحرم واحد من هذه على خلية ومن لم يأذن لها حليلها.
Artinya : Dan ibarat Kurdi haram orang laki laki memakai inai. Berbeda dengan perempuan, maka padanya ada perincian, Jika untuk ihram, maka di sunatkan bagi perempuan untuk memakai nya, baik perempuan yang sudah menikah atau belum, perempuan muda atau tua. Dan adapun perempuan yang sedang berkabung, maka haram diatas nya. Sedangkan khunsa sama seperti laki laki. Dan apabila mewarnai, maka mengumumi ia akan dua tangannya dengan mewarnai. Dan disunatkan memakai inai bagi perempuan yang bukan ihram jika ada halilnya, jika tidak,maka hukumnya makruh. Dan tidak di sunatkan mengukir, menghitamkan, dan mewarnai ujung tangan dan mengecat warma merah dan menutupi, bahkan haram salah satu dari pada ini di atas orang perempuan yang sunyi dari halil, dan perempuan yang tidak ada izin dari halil-nya.
- . Ibnu hajar, Tuhfah al-muhtaj, juz 4 hal 74, Beirut darul ihya’:
ويسن لغير المحرمة أيضا إن كانت حليلة وإلا كره ولا يسن لها نقش وتسويد وتطريف وتحمير وجنة بل يحرم واحد من هذه على خلية ومن لم يأذن لها حليلها.
Selain waktu ihram juga disunatkan memakai Hena bagi wanita yang bersuami bila mendapat keizinannya, dan dimakruhkan bagi wanita lajang. Dan tidak disunatkan mengukir, menghitamkan, memakai pada jari-jari saja atau memerahkan pipi, bahkan perkara tersebut di haramkan bagi wanita lajang dan wanita yg bersuami yang tidak diizinkan oleh suaminya.
- Zakaria al-ansari, Asna Mathalib, juz 1. hal 173 :
كذا يُسْتَحَبُّ خَضْبُ كَفَى الْمَرْأَةِ الْمُزَوَّجَةِ وَالْمَمْلُوكَةِ وَقَدَمَيْهَا بِذَلِكَ لِأَنَّهُ زِينَةٌ وَهِيَ مَطْلُوبَةٌ منها لِزَوْجِهَا أو سَيِّدِهَا تَعْمِيمًا لَا تَطْرِيقًا وَلَا نَقْشًا
Seperti demikian dituntut sunatkan mewarnai telapak tangan perempuan yang sudah menikah dan yang dimilikkan dan dua tumitnya karena itu adalah perhiasan, dan perhiasan itu dituntutkan daripadanya perempuan bagi suaminya dan sayyidnya secara merata bukan dengan cara mewarnai ujung tangan dan bukan pula dengan cara mengukir.




